Hari Perempuan Internasional di Guinea-Bissau
Hari Perempuan Internasional jatuh pada 8 Maret. Di Guinea-Bissau, Dekret No. 1/2023 membedakan tanggal tersebut dari hari libur nasional wajib yang mengharuskan penghentian kerja di sektor publik dan swasta: dekret memberikan izin tidak bekerja kepada pegawai publik tertentu.[1]
Ketentuan hukum
Dekret mencantumkan secara terpisah hari libur nasional wajib dan menyatakan bahwa kerja harus dihentikan di sektor publik maupun swasta pada tanggal-tanggal tersebut, kecuali untuk kegiatan yang tidak dapat dihentikan. 8 Maret tidak termasuk dalam daftar itu. Sebaliknya, Pasal 2 memberikan izin tidak bekerja pada 8 Maret kepada pegawai publik di pemerintahan pusat dan daerah, institut publik, serta perusahaan publik.[1]
Tidak ada hari pengganti yang ditetapkan jika 8 Maret jatuh pada akhir pekan, dan pegawai sektor swasta tidak mendapat izin tidak bekerja. Tanyakan langsung kepada pemberi kerja atau penyedia layanan mengenai pengaturan jam operasional.[1]
Peran perempuan dalam sejarah Guinea-Bissau
Hari Perempuan Internasional memiliki gaung sejarah tersendiri di Guinea-Bissau karena perempuan turut serta dalam perjuangan pembebasan antikolonial yang dipimpin PAIGC. Penelitian yang dipublikasikan oleh Universidade NOVA de Lisboa menguraikan keterlibatan perempuan dalam kegiatan militan dan kegiatan lain pada masa perang, serta mengkaji bagaimana proyek kemerdekaan merumuskan emansipasi perempuan sambil menghadapi supremasi laki-laki.[3]
Laporan Guinea-Bissau kepada Komite PBB untuk Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan mengaitkan pembentukan PAIGC pada 1956 dengan persoalan status politik perempuan. Laporan tersebut menyebut program partai itu mencakup kesetaraan warga di hadapan hukum, sekaligus menguraikan akses bertahap perempuan terhadap hak-hak politik.[2]
Konteks internasional dan perayaan setempat
Di seluruh dunia, Hari Perempuan Internasional mengakui pencapaian perempuan dan menyoroti kesetaraan serta partisipasi. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut peringatan ini muncul dari gerakan buruh di Amerika Utara dan Eropa sekitar awal abad kedua puluh dan secara resmi diakui oleh PBB pada 1977.[4]
Tidak ada aksi unjuk rasa, upacara, pertunjukan, hidangan, atau cara perayaan tertentu lainnya yang diwajibkan. Cari informasi setempat untuk mengetahui kebiasaan, makanan, perbedaan regional, dan kondisi perjalanan.[1]
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah Hari Perempuan Internasional merupakan hari libur nasional wajib di Guinea-Bissau?
Dekret No. 1/2023 mencantumkan hari libur nasional wajib yang mengharuskan penghentian kerja di sektor publik dan swasta; 8 Maret tidak termasuk di dalamnya. Secara terpisah, dekret memberikan izin tidak bekerja kepada pegawai publik tertentu.[1]
Siapa yang berhak mendapat izin tidak bekerja pada 8 Maret?
Dekret menyebut pegawai publik di pemerintahan pusat dan daerah, institut publik, serta perusahaan publik. Pasal 2 tidak memberikan hak tersebut kepada pegawai sektor swasta.[1]
Apakah ada hari pengganti jika 8 Maret jatuh pada akhir pekan?
Dekret menetapkan 8 Maret sebagai tanggal izin tidak bekerja bagi pegawai publik, tetapi tidak menyatakan bahwa dispensasi tersebut berpindah ke hari lain jika 8 Maret jatuh pada akhir pekan.[1]
Apa saja yang buka pada hari itu?
Sebelum membuat rencana, tanyakan kepada bank, toko, atau penyedia transportasi tertentu. Izin tidak bekerja berlaku bagi pegawai publik yang disebut dalam dekret.[1]
Sumber dan referensi
Sumber yang digunakan untuk Hari Perempuan Internasional di Guinea-Bissau:
- Decreto n.º 1/2023 — Feriados Nacionais Obrigatórios- República da Guiné-Bissau, Boletim Oficial
- Consideration of reports submitted by States parties under article 18 of the Convention: Sixth periodic report of States parties: Guinea-Bissau- United Nations Committee on the Elimination of Discrimination against Women
- Gender Struggle in Guinea-Bissau: Women’s Participation On and Off the Liberation Record- Universidade NOVA de Lisboa
- Background | International Women’s Day- United Nations